Suatu pagi yang cerah ada seorang Direktur dari perusahaan Multi Nasional yang sedang berlibur di tepi pantai. Ia berjalan santai menyusuri pantai yang bersih dan sejuk. Hingga akhirnya Direktur itu sampai di penghujung pantai dan melihat seorang nelayan yang tampak lusuh sedang membersihkan perahunya sembari memasukan hasil tangkapannya hari ini ke sebuah keranjang ikan.


Direktur itu kemudian mendatangi sang Nelayan tadi lalu bertanya :
"Apakah dapat banyak ikannya pak?".
Sang Nelayan langsung menjawab "Alhamdulillah, lumayan pak. Bisa buat makan hari ini"
Direktur lanjut memberikan pertanyaan "Apakah ikannya dijual Pak? Kalau iya berapa semuanya?"
Nelayan pun spontan tersenyum sembari menjawab "iya pak, Ini ikan yang besar-besar saya jual. 40 ribu saja. Sedang yang kecil-kecil saya makan bersama keluarga."

Akhirnya Direktur itu pun membayar ikan itu seharga 40 ribu dan membawa ikan itu ke tempat ia memparkirkan mobilnya. Ketika sedang melihat ikan-ikan segar tersebut sambil membayangkan hendak di masak seperti apa, tiba-tiba Direktur tersebut kepikiran "Apakah uang 40 ribu itu cukup untuk nelayan itu beli kebutuhan melaut dan hidup sehari-hari. Akhirnya setelah sampai di mobil, ia meletakkan ikan di bagasi dan kembali berjalan ke arah Nelayan tadi berada.

Sesampainya di tempat nelayan ia pun bertanya kepada Nelayan tersebut
"Hai Pak Nelayan, Engkau menjual hasil tangkapanmu hari ini seharga 40 ribu kepadaku, Apakah engkau sanggup memenuhi kebutuhanmu hanya dengan uang itu? Aku lihat rumahmu juga sederhana, dan engkau tak nampak memiliki sumber penghasilan lain."
Nelayan tersenyum tipis sembari menatap mata Direktur tersebut.
"Alhamdulillah cukup pak, Uang 40 ribu itu akan saya belikan beras senilai 10 ribu rupiah untuk dimasak hari ini, kemudian 20 ribu akan saya belikan solar untuk bahan bakar melaut nanti malam, dan sisanya 10 ribu untuk saya tabung untuk kebutuhan putra saya kelak."

Direktur itu merasa iba. Nelayan tersebut hanya mampu menabung 10 ribu saja perhari. Akhirnya sang Direktur menawari pekerjaan kepada Nelayan tersebut.
"Bekerjalah di perusahaanku. Kau bisa bekerja sebagai Cleaning Service di siang Hari, dan Sebagai Security pada malam hari. Kau juga bisa menginap di kantor. Ada Mess disana. Aku akan menggajimu 10 juta perbulan. Kau bisa menabung banyak, sehingga nanti saat tua kau bisa bersantai dan banyak bermain bersama keluargamu."

Nelayan pun mencoba menatap dalam ke Mata Direktur tersebut sambil membalas halus
"Mohon maaf pak, saya tidak tertarik dengan tawaran bapak. Memang gaji yang bapak tawarkan besar. Namun bukan itu yang saya cari. Bapak bilang saya bisa bekerja keras dan banyak menabung sehingga saat tua nanti saya bisa bermain puas dengan anak saya. Kenapa harus menunggu tua pak? sedangkan anak saya sudah menjadi dewasa ketika saya tua nanti. ia lebih membutuhkan saya sekarang, dan dengan pekerjaan saya sekarang, saya bisa menemaninya bermain setiap hari, saya bisa mengajarinya banyak hal. dan saya juga bisa mendidiknya menjadi putra yang saya banggakan. Jika saya bekerja di tempat bapak dan banyak menghasilkan uang, mungkin secara materi kebutuhan kami akan lebih terpenuhi dengan baik, namun apakah masa bermain antara saya dan dia bisa tergantikan? Saya rasa tidak pak."

Terdiam sejenak lalu nelayan tersebut melanjutkan bicaranya
"Jadi saya memohon maaf sekali karena harus menolak tawaran bapak. Bapak juga bisa renungkan, apa yang sebenarnya bapak cari selama ini? Apakah benar kedudukan tinggi tersebut dan Harta yang Melimpah dengan mengorbankan waktu bersama Keluarga? Atau mungkin ada hal lain yang bapak inginkan."

Setelah selesai menjawab pertanyaan Direktur tersebut sang Nelayan langsung pamit
"Mohon maaf pak saya harus segera pulang dan mandi, Saya harus mengantarkan anak saya ke Sekolah. Permisi." Nelayan tersebut pergi sembari tersenyum manis/

Direktur tersebut terpaku tak bisa berkata apa-apa. Ia merenungi bahwa saat ini putra putri nya sudah dewasa. mereka kini tak lagi mengajak bermain sang Ayah. Mereka hanya sering kali meminta uang untuk membeli barang-barang mewah yang mereka sukai.

Yah begitulah, waktu itu hanya berjalan sekali. Prioritaskan lah apa yang sebenarnya kita cari. Tak perlu menuruti omongan banyak orang. Karena apa yang paling membuatmu bahagialah yang harus kamu utamakan.