Hati Ke Tiga

Nama saya ika, saya memiliki sahabat mempunyai nama tiwi. Setiap hari, setiap ketika kami tidak jarang kali bersama. Tiwi memiliki sahabat mempunyai nama aldi, mereka dekat jauh lebih lama dari kedekatan saya dan tiwi.

Seiring masa-masa kami bersama, saya mulai jatuh hati untuk aldi. Sebenarnya saya ingin kisah kepada tiwi, namun tiwi kisah kepada saya lebih dulu bahwa dia menyenangi aldi semenjak kesatu mereka bertemu. Hatiku hancur, bingung mesti mengerjakan apa. Dengan arif saya melapangkan dada dengan menghapus seluruh perasaan saya ke aldi.

Setiap ketemu aldi, saya tidak jarang kali memojokkan dia dan tiwi supaya mereka jadian. Waktu juga berlalu, aldi tidak jarang kali menghubungi saya. Saya tadinya cuek, namun wanita mana sih yang gak suka sama bujukan dan kata romantis. Lama kelamaan aldi bilang bila dia suka dengan saya. Saya bingung, sebab sebenarnya tiwi suka aldi jauh lebih lama.


Saya mengupayakan menjelaskan untuk adi bahwa yang suka dia ialah tiwi dan saya menyenangi teman aldi mempunyai nama ali dengan harapan supaya aldi tidak bercita-cita kepada saya. Tetapi aldi sukanya sama saya bukan tiwi dan aldi akan menantikan saya sampai dapat menerima dia.


Belum kisah ke tiwi, ternyata tiwi mengetahui tersebut semua dari aldi. Dengan besar hati tiwi rela bila aldi menjadi kepunyaan saya.

Setelah kami jadian, saya dan aldi selalu menguras waktu bersama. Bercerita tentang masa kemudian masing masing, keluarga, kisah lucu dan sebagainya. Sementara tiwi dekat dengan ali. Yah, namanya pun hubungan tentu tidak mulus…!. Tapi kami tidak jarang kali dapat melewati masalah dengan baik.

Suatu hari dimana saya pergi dengan berita duka bahwa ibu saya meninggal, saya tidak masuk sekolah sekitar seminggu. Setelah balik ke sekolah, rekan saya bertanya “kamu telah putus sama aldi?” “Emang kenapa?” “kemarin aku lia, dia jalan sama tiwi!”. Saya sih berfikir lumrah ajalah, namanya pun sahabat.

Sebulan kemudian, hubungan kami tidak sedikit masalah. Dengan tanpa pikir panjang kami menyimpulkan untuk mengurusi hidup masing masing. Tak lama dari perpisahan kami, saya sering menyaksikan tiwi dan aldi bareng tanpa melibatkan saya sebagai sahabat. Tiwi mulai menjauhi saya, begitupun sebaliknya sebab rasa kecewa yang saya dapat.


Setelah itu, saya dengar bahwa mereka jadian. Betapa hancur perasaan saya.

Sejak itu, saya menyimpulkan untuk pindah sekolah. Setelah lulus sekolah, saya dengar bahwa mereka bakal menikah. Entah tau dari mana alamat bermukim saya, mereka mengundang saya ke acara pernikahan mereka. Sebagai kawan yang berjiwa besar, saya menyimpulkan untuk dapat hadir ke acara tersebut. Selama di perjalanan, hati saya hancur sambil berkata pada diri sendiri “kenapa dulu tidak langsung bersama?”.

Acaranya dilangsungkan dengan meriah dan di tempat tersebut pula saya bertemu dengan rekan aldi yang memang pernah membubuhkan hati pada saya. Aldi dan tiwi mengupayakan menyatukan kami, namun saya masih belum dapat membuka pintu hati. Saya berniat tidak hendak pacaran, sebab trauma yang amat dalam. Saya tidak jarang kali berdoa supaya kebahagiaan memang bakal datang. Amin.