Rahman Hadiah dari Ibu

“Aminah, cepat kemari, dan bawakan Inak penyelut1 di dalam keranjang” teriak perempuan di balik ruangan bersekat satu ruangan dari tempatnya.

“Nggih Inak(2)… balas seorang gadis yang sedang tercenung di pinggiran jendela dapur.
“Niki(1) inak…” Ujarnya sambil mengulurkan tatakan gelas bermotif bunga biru diatasnya.
“Aminah, duduklah anda dahulu”, ajak ibunya dengan menepuk sofa di sampingnya sebagai petunjuk supaya Aminah duduk di sampingnya.


“Dia cantik, dan aku dengar kepribadiannya juga lumayan baik, aku menyukainya”. Lelaki paruh baya di seberang meja juga membuka percakapan. Seketika darah Aminah terasa meledak menjangkau ubun-ubun, bibirnya bergetar hebat, tubuhnya kikuk, keringat dingin terasa memenuhi pelipisnya. Bagaimana bisa? Ada apa ini? Apa maksudnya ini?, pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengiang di kepalanya. “Pak..” Aminah berani angkat bicara, tetapi belum berlalu ia bicara, ibunya segera menggenggam tangan Aminah dan menatapnya dengan tatapan lembut, tatapan yang guna kesatu kalinya dibenci Aminah, tatapan yang ia tak mau dari ibunya, tatapan yang membuatnya merasa menjadi gadis paling mengenaskan di dunia ini.


“Benarkah pak?, saya merasa terhormat, kamu bisa mengenal dengan baik putri saya”, balas ibu Aminah dengan senyum yang malah membuat hati Aminah tersayat-sayat, kenapa ibunya dapat tersenyum begitu estetis kepada pria yang mestinya menjadi ayahnya, tetapi ia malah menyukai Aminah sebab ia cantik? Hah, suka macam apa itu, gerutu Aminah dalam hati.

“Inak, apa sebetulnya yang terjadi? Mungkinkah pria tadi hendak meminangku? Katakan dan sampaikan kenapa anda tampak begitu tenang, apakah tersebut berarti kau merestuinya? Apa yang anda fikirkan sehingga tidak mempedulikan anak gadismu bareng lelaki yang patutnya menjadi ayahku, inak? Maafkan aku Inak, guna kesatu kalinya aku begitu tak suka dengan jalan fikirmu. Pernyataan itu hendak segera Aminah luapkan pada ibunya, tetapi tanpa ia sadari malah air matanya lebih dahulu meluap dengan bibir gemetar menyangga amarah dan luka.


“Tenanglah anakku, ibu memahami apa yang kau fikirkan kini tentang Inakmu ini, namun asal kau tahu, berikut jalan terbaik guna kebahagiaanmu”, ibunyapun angkat bicara, namun justru melulu menambah luka di batin Aminah.

Sang surya baru saja beranjak dari pangkuan malam, sementara pagi masih kerasan berselimut terlepas dari guyuran hujan semalaman suntuk, menyisakan genangan air beraroma lumpur khas yang membuyarkan Aminah dari lelapan paginya.


Ingatan mengenai lamaran kemarin menjadi sarapan guna Aminah. Bukan tanpa dalil Aminah begitu menentang bisa jadi lamaran itu, tidak saja sekedar rupa dan usia, ada urusan lebih fundamental yang menjadi tiang pengampu yang mengokohkan pertahanan Aminah, yakni Cintanya untuk Rahman.. Lelaki yang baru dua minggu dikenal Aminah ketika pengajian, pria yang mengingatkan Aminah bahwa menyukai tak mesti langsung memiliki, namun melulu perlu bermunajat untuk Allah dan memintaNYA untuk membawa cinta itu bareng ikatan sebagai pasangan laksana yang terdapat dalam agama.

Karena mempunyai yang sesungguhnya ialah kita yakin bahwa apa yang anda inginkan, apa yang anda idamkan ialah benar-benar bakal menjadi kepunyaan kita, tak peduli inginkan menjadi apa, atau apakah ia berlaku sama. Karena dasarnya cinta bakal tumbuh seiring waktu, tergantung dari bagaimana anda bertahan menanamnya.

Sore tersebut seperti biasa Aminah bakal pergi menghadiri pengajian di Masjid.
“Assalamualaikum, Aminah?”, mendadak jantung Aminah laksana berhenti berdetak, suara tersebut tak asing lagi di telinganya.


“Ehh iya Rahman, waalaikumsalam”, jawab Aminah sambil menundukkan kepala. Karena meskipun mereka tidak jarang bertegur sapa, tak pernah sekalipun mereka berani menatap mata agak lama, melulu dari suaranya saja, Rahman sudah sukses mengambil hati Aminah.


“Hmmm, begini Aminah, sebatas pamit saja, mulai kelak saya beserta keluarga bakal pindah lagi ke lokasi lain, menilik pekerjaan Abah tidak cukup mendukung di sini, jadinya mesti berpindah tempat lagi, barangkali ke luar kota”. Seketika fikiran Aminah terbang entah kemana. Apa ini? Kenapa waktunya mesti sekarang? Apa Rahman telah tau? Ah tidak mungkin, namun aku bukanlah apa-apa untuk Rahman, kenapa aku begitu khawatir?
“oh iya Rahman, semoga usaha Abahmu berlangsung dengan baik di lokasi lain” jawab Aminah dengan tidak banyak tersendak menyangga air mata.