Rahman Hadiah dari Ibu - Part 2

Rahman Hadiah dari Ibu - Part 2

“Baiklah Aminah, semoga kau dapat hidup dengan baik, tetaplah menjadi perempuan yang istiqomah, dan tetaplah mengawal keindahan yang terdapat pada dirimu, tidak boleh biarkan sesuatu datang dan mengusik hidupmu, keberkahan tidak jarang kali menyertaimu Aminah, aku mesti pergi, Assalamualaikum”, mendadak benteng pertahanan Aminah hancur, air matanya tumpah, bahkan untuk membalas salam ataupun menyampaikan selamat bermukim ia telah tak sanggup, melulu suara kaki Rahman yang ia dengar semakin menjauh meninggalkan tempatnya.

Selamat bermukim Rahman, barangkali Allah punya rencana beda di balik kepergianmu. Bisik Aminah dalam hati.

Seminggu selesai sejak kepergian Rahman, Aminah tetap menjalankan kewajibannya menjadi seorang Pendidik Agama Islam di SMP Bina Husada, Kota Praya. Meskipun hati dan fikirannya berlabu tak tau arah, tetapi ia mesti tetap terlihat istimewa di depan murid-muridnya, mesti tetap tertawa, menyerahkan perlindungan dan motivasi untuk muridnya, meskipun sebetulnya ia sedang melaksanakan masalah yang lebih banyak dapi apa yang ia bayangkan.

Jam sekolah telah berakhir, tahapan kaki Aminah entah kenapa dirasa semakin gusar, perasaannya tidak enak, laksana ada yang mengganjal dan menuntunnya guna segera mendarat di rumah.


“Assalamualaikum..”, sapa Aminah pada kerumunan orang di halaman rumahnya. Aminah sempat memprediksi sesuatu yang buruk sudah terjadi, menilik tak seringkali rumahnya ditemui sanak-saudara laksana itu, namun menyaksikan ekspresi mereka yang berbahagia, Aminah melemparkan jauh-jauh hipotesanya itu, dan segera masuk rumah menggali ibunya.

“Inak, mengapa ramai sekali di sini?” tanya Aminah langsung saat mendapati ibunya dengan kebaya berwarna peach bertabur manik-manik yang paling manis di tangannya.
“Aminah, kesudahannya kau telah pulang, kemarila !”


“Cobalah kebaya ini, Inak yakin tentu akan sangat sesuai denganmu”. Balas ibunya sambil menyodorkan kebaya di tangannya.


“Inak, apakah waktunya bakal segera tiba?”, tanya Aminah balik dengan ekspresi yang berubah seketika.


“Anakku, Inak yakin anda pasti dapat menerimanya dengan baik, Inak tidak mungkin menciptakan keputusan salah terhadapmu, guna kesatu kalinya, Inak bercita-cita kamu tidak membuat kecewa Inak, khususnya calon suamimu”. Jawab Ibunya dengan menatap lekat putri semata wayangnya, berharap supaya Aminah dapat menerima pernikahan ini dan tak membuat kecewa Ibunya. Baiklah Inak, bila tersebut yang anda inginkan dariku, aku bakal melakukannya, namun anda salah andai mengatakan ini ialah keputusan yang benar, Aku bakal tampil bahagia di depanmu dan suamiku, namun tidak di dalam hatiku.

Lelaki berpakaian apik dengan setelan cream, diperbanyak sapuk(3) yang terbelenggu di kepalanya datang mendekat Aminah bareng senyum yang malah membuat hati Aminah menjadi geli. “Subhanallah, sungguh spektakuler dirimu Aminah, semoga pernikahan ini menjadi kebahagiaan bagimu”, ujar pria paruh baya yang sangat dikenang Aminah, sebagai pria yang melamarnya sejumlah waktu yang lalu. Apa dia memikirkan kebahagiaanku? Lelaki macam apa dia sebenarnya, bagaimana ia dapat mengharapkan kebahagiaan untukku, sementara batinku begitu terluka. Gumam Aminah dalam hati dengan nada mencibir.

“Assalamualaikum Pak Yusuf, mana menantuku? Kenapa belum datang juga?”. Teriak perempuan dengan setelan kebaya kartini dan jilbab yang diciptakan agak bertumpuk, meningkatkan kesan keibuannya.


“Waalaikumsalam Ibu Nuraini, saya paling senang mendengar andai kau menanyakan eksistensi putraku”, jawab lelaki tersebut dengan senyum semerbah yang malah membuat pertanyaan besar di kepala Aminah.

Menantu, Putra, Apa ini?, kenapa ibu bertanya seakan-akan calon suamiku tidak terdapat disini, bukankah jelas-jelas lelaki tersebut yang bakal meminangku?, tapi kenapa ibu malah mempertanyakan orang lain, mungkinkah ini melulu gurauan mereka supaya membuatku tak khawatir, barangkali saja, namun aku bercita-cita tidak. Pertanyaan tersebut semakin bergerutu di kepala Aminah. Setidaknya ada tidak banyak celah untuknya bernafas, minimal ada asa lelaki tersebut bukanlah calon suaminya, tetapi orang lain, entah siapapun itu, Aminah hanya bercita-cita dia ialah orang yang baik, dan layak dipanggil Suami.

“Mempelai laki-laki telah tiba” seru seseorang di teras lokasi tinggal dengan nada tidak banyak ditinggikan.


Suara buaian Marawis mengisi sudut rumah, pertanda mempelai laki-laki telah tiba, membawa mahar yang sudah disepakati berupa Al-Qur’an dan perangkat sholat.

Jika sejumlah waktu yang kemudian Aminah dapat sedikit bernafas lega, kali ini nafasnya kian sesak, jantungnya bergetar hebat, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya, saat melihat pria dengan kemeja putih dan peci hitamnya, bareng senyum yang guna kesatu kalinya di lihat Aminah, mata, hidung, bibir dan mata yang begitu indah, serta suara yang paling Aminah kenali meskipun tak pernah ia pandangi wajah pria itu, melulu melihat tahapannya saja, Aminah dapat langsung mengenalinya, Rahman. Ucap Aminah lirih dengan air mata yang tak dapat ia bendung lagi, diperbanyak tangis haru Ibunya yang menciptakan hati Aminah begitu bahagia. Terimakasih Inak, anda tetap menjadi sesuatu yang teramat berharga bagiku, terimakasih sudah membawakan cinta untukku, dan telah mengawal kehormatanku bareng Rahman. Senyummu tetap indah, jalan pikirmu tetap benar, dan keputusanmu tidak pernah salah, berikut apa yang orang beda sebut dengan cinta. Terimakasih ibu, telah membawa cinta guna Aminah…                       

Posting Komentar

0 Komentar